KHUTBAH: Kubur Gerbang Akherat

hutbah Pertama :


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ

Ibadallah! Saya berwasiat kepada anda semua agar senantiasa bertakwa kepada Allah Yang Maha Mangetahui segala rahasia. Bertakwalah kepadaNya secara lahir dan batin. Karena takwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala adalah bekal terbaik untuk memasuki alam kubur dan hari akhir. Hari di saat semua rahasia terbongkar dan apa yang tersembunyi menjadi terbuka. Hari ketika hati terdesak ke kerongkongan. Hari saat harta benda dan kekayaan tidak lagi berguna.

Ibadallah! Siapakah yang akan kekal dan abadi ? Siapakah yang menetapkan kematian atas seluruh makhluk ? Siapakah yang akan terus hidup dan tidak akan mati ? Siapakah satu-satunya yang akan tetap bertahan ? Siapakah yang akan tetap ada dan tidak akan hilang ? Siapakah satu-satunya yang tidak akan berubah ? Dialah Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Mulia lagi Maha Gagah. Dialah yang menetapkan kematian atas seluruh hamba. Sedangkan Dia tidak akan pernah hilang dan musnah.

Ma’syiral muslimin rahimani warahimakumullah! Orang yang diburu oleh maut, mana mungkin bisa merasakan nikmatnya hidup ? Dan orang yang akan tinggal di dalam kubur, mana mungkin menganggap dunia sebagai tempat terbaiknya ? Kita terlalu asyik dengan harta, rumah, anak dan istana, sehingga kita lupa bahwa kita semua pasti akan masuk ke liang kubur. Kita terlena dengan hal-hal baru sehingga lupa akan masa depan kita di alam kubur. Ketika kekuatan iman menurun dan perasaan melemah, kita menjadi lupa bahwa kita akan dikubur di dalam tanah. Hanya kepada Allahlah kita mengadukan kekerasan hati kita akibat banyaknya bencana dan malapetaka yang menimpa.

Wahai umat Islam! Jiwa kita pasti sangat tersentak saat kita mengantar orang-orang tercinta ke liang lahat. Dan hati kita pasti sangat terguncang saat berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi. Tapi bagi orang-orang yang beriman kepada qadla dan qadar Allah, dan mengetahui bahwa hal itu adalah sunnatullah yang berlaku bagi makhlukNya (hukum Allah pada alam), tidak ada pilihan lain selain berlapang dada dan bersikap pasrah. Tetapi anehnya, banyak sekali orang yang larut dalam kebodohannya dan terombang-ambing dalam kemabukannya.

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).(QS. Al-Anbiyaa’ :1)

Seolah-olah kebenaran adalah kewajiban orang lain. Seakan-akan kematian adalah ketetapan bagi orang lain. Di saat kita dikepung oleh budaya kebendaan (materialisme), disibukkan dengan permainan yang menggoda, dan ditenggelamkan dalam kubangan kenikmatan dan kesenangan, hingga merasuk ke dalam hati dan meresap ke dalam jiwa. Bahkan kita merasa seolah-olah kekal di dunia ini. Dalam keadaan semacam ini, kita benar-benar perlu berhenti sejenak untuk menghadapi masa depan yang pasti akan kita lalui. Khususnya setelah dunia nyaris membawa banyak manusia menjauh dari pantai keselamatan dan melemparkan mereka ke jurang kehancuran dan kesesatan. Mudah-mudahan Allah berkenan menghindarkan kita dari murkaNya dan siksaNya yang sangat pedih.

Wahai orang-orang yang beriman! Pernahkah kita bertanya pada diri kita, apakah hidup akan terus begini, ataukah kubur akan menjadi persinggahan kita setelah ini ? Pernahkah kita bertanya kepada diri kita tentang puluhan jenazah yang kita shalati, kemanakah mereka pergi ? Apa yang akan mereka hadapi ? Bagaimanakah keadaan mereka ? Apa yang akan mereka alami ? Dan bagaimanakah nasib mereka nanti ? Tepat sekali apa yang dikatakan penyair berikut ini :

Kematian itu bisa dihindari dan dijauhi
Bila ini turun dari ranjangnya, itu naik ke atasnya
Kita menginginkan banyak hal dan mengharapkan hasilnya
Tapi boleh jadi kematian lebih dekat dari harapan kita
Kita bangun istana-istana menjulang tinggi di angkasa
Padahal kita tahu bahwa kita pasti akan mati
Dan istana-istana itu pasti akan hancur
Kepada Allah kita mengadukan kerasnya hati kita
Setiap hati peringatan kematian selalu datang
Demi Allah, setiap pagi dan petang hari banyak sekali orang tercinta
Yang kita antar ke liang kuburnya
Dengan deraian air mata
Kita timbun tubuhnya dengan tanah bagai musuh saja
Sementara di dalam hati ada api yang membara

Liang kubur telah menampung orang-orang dulu dan orang-orang belakangan, dimasuki anak-anak kecil dan orang-orang dewasa, dipenuhi rakyat dan pejabat. Liang kubur menghimpun para Nabi, para ulama, orang-orang kaya, orang-orang miskin, rakyat jelata, pejabat tinggi, laki-laki dan wanita.

Kubur adalah pintu yang akan dimasuki semua orang
Tempat apakah gerangan sesudah pintu kubur ?
Tempat yang nikmat jika anda mengerjakan apa yang diridhai Tuhan
Tapi jika anda melanggar aturanNya, Nerakalah adanya.

Ayyuhal ikhwah Fillah! Marilah kita hayati topik yang sangat penting ini. Topik yang menggambarkan betapa pentingnya situasi ini dan betapa pentingnya apa yang akan kita hadapi. Mudah-mudahan kita bisa menyiapkan bekal dengan sebaik-baiknya.

Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim meriwayatkan dengan sanad shahih dari Al-Bara’ bin ‘Azib Radiyallahu ‘anhu ia berkata: “Kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk melayat jenazah seorang lelaki dari kalangan anshar lalu kami sampai di kuburan. Setelah jenazah dikuburkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam duduk dan kami pun duduk di sekelilingnya seolah-olah di atas kepala kami ada burung ( baca: sambil menundukkan kepala). Sementara beliau memegang sebatang kayu kecil yang beliau gunakan untuk mengoyak tanah. Lalu beliau mengangkat kepala dan bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur” sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau bersabda:

“Sesungguhnya ketika seorang hamba yang beriman meninggalkan dunia dan menuju Akhirat ada banyak malaikat yang turun dari langit. Wajah mereka putih bersih laksana matahari. Mereka membawa kain kafan dan parfum dari Surga. Mareka duduk di dekatnya sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut datang dan duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan ridha Allah.” Lalu jiwa itu keluar mengalir seperti air mengalir dari bibir teko. Malaikat maut pun mengambilnya. Setelah ia mengambilnya, mereka tidak membiarkannya di tangan malaikat maut barang sekejap mata. Mereka langsung mengambilnya dan membungkusnya dengan kain kafan dan parfum tersebut. Kemudian jiwa itu mengeluarkan aroma seperti aroma minyak kasturi (misik) yang paling harum di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik ke atas. Dan setiap kali mereka melewati kumpulan malaikat, mereka (yang dilewati itu ) berkata : ‘Apa yang berbau harum ini ? Mereka ( para malaikat pembawa jiwa itu ) menjawab : Fulan bin Fulan. Mereka menyebutnya dengan nama terbaik yang sebelumnya digunakan oleh manusia untuk memanggilnya selama di dunia. Mereka terus naik ke atas sampai tiba di langit terdekat. Lalu mereka minta izin untuk dibukakan pintu langit dan pintu pun dibuka. Di tiap-tiap langit itu para malaikat terdekatnya turut mengantarkannya ke langit berikutnya. Hingga akhirnya ia sampai ke langit ketujuh. Lalu Allah berfirman : ‘Catatlah buku hambaKu di dalam kelompok tertinggi dan kembalikan dia ke bumi. Karena sesungguhnya dari situlah Aku menciptakan mereka, ke sanalah Aku mengembalikan mereka, dan dari sanalah aku akan mengeluarkan mereka pada kali yang lain. Kemudian ruhnya dikembalikan (ke bumi). Lalu ia didatangi dua malaikat dan bertanya kepadanya: ‘Siapa Tuhanmu ? ia menjawab: Tuhanku adalah Allah. Keduanya bertanya: Apa agamamu ? ia menjawab: Agamaku adalah Islam. Keduanya bertanya: Siapakah orang yang diutus di antara kamu ini ? ia menjawab: Dia adalah utusan Allah. Keduanya bertanya: Apa ilmumu ? ia menjawab: Aku telah membaca kitab Allah, lalu aku percaya dan membenarkannya. Kemudian ada seruan dari langit yang berbunyi: HambaKu benar. Maka berilah dia kasur dari Surga dan berilah dia pakaian dari Surga. Dan bukakanlah pintu menuju Surga untuknya, agar ia mendapatkan aroma dan keharumannya. Dan kuburnya pun dilapangkan sepanjang mata memandang. Lalu ia didatangi seorang yang berwajah rupawan, berpakaian bagus dan berbau harum. Orang itu berkata: “Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkan hatimu. Ini adalah harimu yang dahulu dijanjikan kepadamu. Ia (orang beriman yang mati) bertanya: Siapa kamu ? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan. Aku adalah amalmu yang shalih, jawabnya. Lalu ia berkata: Ya Tuhanku, laksanakanlah hari kiamat, agar aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku.” 
Sedangkan ketika seorang hamba yang kafir meninggalkan dunia dan menuju Akhirat ada banyak malaikat yang turun dari langit dengan wajah yang hitam legam. Mereka membawa kain kasar. Mereka duduk di dekatnya sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut datang dan duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: “Wahai jiwa yang jahat, keluarlah menuju murka dan amarah Allah! Lalu ia pun dilepas dari jasadnya. Malaikat maut mencabutnya seperti mencabut tusuk sate dari wool yang basah. Setelah malaikat maut mengambil jiwa tersebut, mereka (para malaikat yang berwajah hitam itu) tidak membiarkannya berada di tangannya barang sekejap mata pun. Mereka langsung membungkusnya dengan kain kasar tersebut. Dan jiwa itu langsung mengeluarkan bau busuk seperti bau bangkai yang paling busuk di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik ke atas. Dan setiap kali mereka melewati kumpulan malaikat, mereka (yang dilewati itu) berkata: ‘Apa bau yang busuk ini ? Mereka (para malaikat pembawa jiwa itu) menjawab: Fulan bin Fulan. Mereka menyebutnya dengan namanya yang paling jelek selama di dunia. Mereka terus naik ke atas sampai tiba di langit terdekat. Lalu mereka minta izin untuk dibukakan pintu langit tetapi tidak dibukakan.” 

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca ayat:

لاَتُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَآءِ وَلاَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. (QS. Al-A’raf :40)

Lalu Allah berfirman: “Catatlah bukunya pada Sijjin di dalam bumi yang paling bawah.” Lalu ruhnya dibuang begitu saja.

Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca ayat:

وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Hajj :31)

Kemudian ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya dan ia didatangi oleh dua orang malaikat. Lalu keduanya duduk didekatnya dan bertanya: Siapa tuhanmu ? Ia menjawab: Ha?! Ha?! Aku tidak tahu. Keduanya bertanya: Apa Agamamu ? Ia menjawab: Ha?! Ha?! Aku tidak tahu. Lalu keduanya bertanya: Siapakah orang yang diutus di antara kamu ini ? Ternyata ia tidak tahu namanya. Lalu dikatakan padanya: Muhammad. Lantas ia menjawab: Ha?! Ha?! Aku tidak tahu. Kemudian ada seruan dari langit yang berbunyi: Hambaku berdusta. Maka berilah dia kasur dari Neraka dan bukakanlah pintu Neraka untuknya, agar hawa panas dan racunnya mengalir kepadanya. Dan kuburnya pun menghempitnya hingga tulang-tulang iganya saling silang di dalamnya. Lalu ia didatangi seseorang berpakaian jelek dan berbau busuk. Orang itu berkata: Bergembiralah dengan sesuatu yang buruk bagimu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu. Ia (orang kafir yang mati itu) bertanya: Siapa kamu ? Wajahnya adalah wajah yang datang dengan keburukan. Aku adalah amalmu yang buruk, jawabnya. Lalu ia berkata: Tuhanku! Jangan Engkau laksanakan hari kiamat! Tuhanku! Jangan Eangkau laksanakan hari kiamat.”

Sungguh, ini adalah Hadits yang sangat penting. Hadits ini mengambil titik-titik pertemuan hati. Maka bagi setiap orang yang kematian sebagai akhir hayatnya, tanah sebagai tempat tidurnya, ulat sebagai temannya, Maunkar dan Nakir sebagai penanyanya, amalnya sebagai pendampingnya, kuburan sebagai tempat tinggalnya, alam barzakh sebagai persinggahannya, Hari Kiamat sebagai janjinya, dan Surga atau Neraka sebagai akhir perjalanannya, sudah sepantasnya baginya untuk tidak melalaikan detik-detik yang pasti akan dilaluinya ini.

Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Al-Bara’ bin Azib Radiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ketika kami sedang bersama Rasulullah tiba-tiba beliau melihat sekelompok orang. Lalu beliau bertanya: ‘Untuk apa mereka itu berkumpul di situ ? Mereka sedang menggali kubur, jawab seseorang. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam langsung terkejut dan bergegas mendatangi kubur tersebut. Kemudian beliau berlutut dan menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi tanah. Lalu beliau menghadap ke arah kami dan bersabda: ‘Saudara-saudaraku, untuk hal semacam inilah hendaknya kamu bersiap-siap.”

Demikian pula dengan generasi Salaf yang shalih. Hani’ maula Usman Radiyallahu ‘anhu berkata: Utsman bin Affan apabila berada di dekat kubur (makam) selalu menangis hingga jenggotnya basah dengan air mata. Lalu dia ditanya: ‘Anda berbicara tentang Surga dan Neraka tetapi anda tidak menangis. Namun ketika berbicara tentang kubur, anda selalu menangis ? Utsman menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama menuju Akhirat dari itu seseorang selamat darinya maka apa yang sesudahnya akan lebih mudah dari itu. Dan jika ia tidak selamat darinya maka yang sesudahnya akan lebih berat dari itu. (HR. Ahmad, 2/292, At-Tirmidzi, 2308, dan Ibnu Majah, 4267 )

Tsabit Al-Bunani berkata: “Dulu apabila kami menyaksikan jenazah, semua orang menundukkan kepala sambil menangis.”

Begitu besar ketakutan mereka dan begitu kuat iman mereka. Bagaimana dengan kondisi kita sekarang ?!

Jenazah-jenazah membuat kita ketakutan ketika datang
Lalu kita kembali bercanda ria setelah mereka berlalu
Allahul musta’an ! (Hanya Allah tempat memohon)
Dalam sebuah Hadits disebutkan:

“Sesungguhnya kubur tidak lain adalah salah satu taman Surga atau jurang Neraka.” (HR. At-Tirmidzi, 2460 )

Dan disebutkan bahwa kubur berkata: “Hai kamu, anak Adam! Apa yang membuatmu terlena ? Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah rumah kegelapan, rumah keterasingan, rumah kesendirian, dan rumah ulat.”

Aku datang ke kubur lalu berseru
Di mana orang terhormat dan orang jelata ?
Mereka semua binasa lalu tak ada yang memberitakan
Mereka semua mati dan berita mereka pun mati
Ulat-ulat belatung datang pagi dan petang
Lalu menghabisi keelokan bentuk tubuh itu
Wahai orang yang bertanya padaku Tentang orang-orang yang telah lalu
Tidakkah anda punya pelajaran berharga
Dari orang-orang yang telah lalu

Abu Darda’ Radiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah pergi ke makam bersama Umar bin Abdul Aziz. Begitu melihat kuburan ia langsung menangis. Lalu ia menghadap ke arahku dan berkata: ‘Hai Maimun, ini adalah kuburan para leluhur Bani Umayyah. Seolah-olah mereka tidak pernah berbagi kesenangan dan kehidupan dengan dengan penduduk dunia. Tidakkah kau lihat mereka semua mati dan telah menerima hukuman. Mereka ditimpa petaka dan tubuh mereka pun tidak berharga. Lalu Umar menangis dan berkata: ‘Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang beriman di antara mereka yang telah masuk ke liang kubur itu merasa aman dari siksa Allah.”
Jadi, ingatlah selalu masa depan yang pasti akan kita alami itu. Bersiap-siaplah untuk menghadapinya dengan taubat dan amal shalih.

“Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari siksa kubur. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu agar Engkau berkenan memelihara kami dari fitnah kubur. Ya Allah, jadikanlah kubur setelah berpisah dengan dunia ini sebagai persinggahan terbaik kami dan lapangkanlah liang lahat kami. Ya Allah, tolonglah kami dalam menghadapi kematian dan sakaratnya, kubur dan kegelapannya, padang mahsyar dan kesulitannya, shirath (jembatan menuju Surga) dan ketergelincirannya, wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus makhlukNya.

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،

Khutbah Kedua
Amma ba’du:
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّاكَسَبَتْ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya. (QS. Al-Baqarah :281)

Ibadallah! Ketika berbicara tentang masalah masa depan ini, setiap muslim harus fokus pada keharusan mengubah masalah keyakinan ini menjadi kenyataan pikiran dan prilaku nyata di dalam hudupnya. Dalam arti bahwa setiap orang yang percaya bahwa dirinya akan masuk ke liang kubur harus benar-benar yakin bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan dirinya dari kesepian dan siksaan kubur selain beriman kepada Allah dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seandainya kita benar-benar percaya akan hal itu, niscaya kita tidak akan menjumpai orang yang menodai akidah, merusak mutaba’ah (mengikuti Sunnah Rasul), berzina, menjalankan riba, berbuat zalim, berdusta, menipu, atau menyakiti orang lain. Karena ia tahu bahwa dirinya akan masuk ke liang kubur. Setelah itu, ia akan ditanya tentang amal perbuatannya. Dan setelah keluarga, anak-anak dan harta bendanya kembali kerumah, tinggal malnya saja yang menemaninya.

Namun, harapan masih banyak. Kita harus tetap bersemangat. Para ulama dan muballigh harus bisa mempertajam cita-cita, menggerakkan tekad dan melembutkan hati dengan nasihat-nasihat semacam ini. Mudah-mudahan cara ini dapat menggerakkan sumbu, menyalakan api dan menerangi jalan.
Siapkanlah bekal anda, wahai hamba-hamba Allah! Wahai orang-orang yang lalai! Ingatlah masa depan yang pasti ini. Hitunglah amal anda sebelum dihitung oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Wahai orang-orang terpedaya oleh dunia, yang halal maupun yang haram, ingatlah kubur dan pikirkanlah tidur anda di dalam timbunan tanah.

Wahai pemuda yang suka bersenang-senang, bermain-main dan asyik dengan kelalaian dan kesenangannya, sadarlah sebelum habis waktu anda.

Wahai wanita yang suka menyia-nyiakan hak-hak Allah, hak-hak dirinya, suaminya dan anak-anaknya, ingatlah apa yang akan anda hadapi.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّاخَوَّلْنَاكُمْ وَرَآءَ ظُهُورِكُمْ

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan dibelakangmu (di dunia) apa yang telah kamu kurniakan kepadamu. (QS. Al-An’am :94)

Lakukanlah apa saja yang bisa menyelamatkan anda dari siksa kubur, seperti taubat nasuhaa, amal shalih, menghitung-hitung diri, rajin berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan membaca Istighfar dengan niat yang benar, ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dan hadirilah apa saja yang bisa memicu datangnya siksa kubur, seperti menggunjing, menyebar fitnah (mengadu domba), dan tidak menjaga diri dari percikan air kencing. Karena Rasulullah pernah melewati dua buah kuburan lalu beliau bersabda:

“Susungguhnya mereka berdua benar-benar sedang disiksa dalam perkara yang besar. Salah satu dari mereka dahulu tidak menutup diri dari air kencing. Sedangkan yang lain dahulu suka mengadu domba.”(Shahih Al-Bukhari, 218 dan Shahih Muslim, 292)

Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Jagalah kebersihanmu dari air kencing Karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur disebabkan karena hal itu.” (HR. Ad-Daruquthni, 1/128 dan Al-Hakim, 1/183)

Termasuk yang bisa menyebabkan datangnya siksa kubur ialah riya’ (pamer), menjalankan praktik riba, berbuat zina, dan semua perbuatan maksiat.

Ibadallah! Kita harus memperbaharui taubat yang nasuhaa. Kita harus memohon perlindungan kepada Allah dari terkenan dan himpitan liang kubur. Karena Ummul Mukminin Aisyah Radiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya kubur itu memiliki tekanan. Seandainya ada orang yang bisa selamat darinya, niscaya Sa’ad bin Mu’adz selamat darinya.” (HR. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya, 1114, Ahmad, 6/55 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar, 273)
Ayyuhal ikhwah! Bagian luar kubur adalah tanah biasa. Tapi bagian dalamnya bagi orang yang durhaka kepada Allah adalah penyesalan dan siksaan.

Inilah sekilas evaluasi diri sebelum ajal menjemput kita. Mudah-mudahan dapat mendorong kita semua untuk melakukan taubat yangnasuhaa.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

KHUTBAH: BELAJAR DARI NABI IBRAHIM, MEMBANGUN CITA-CITA DUNIA DAN AKHIRAT

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟﻠﻪ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩُ ﻭَﻧَﻌُﻮْﺫُ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﺍَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪﺍً ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ .
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻤُﻮﺗُﻦَّ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻟًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﺴَﺎﺀَﻟُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴﺒًﺎ
ﻳﺄَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻗُﻮﻟُﻮﺍ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﺳَﺪِﻳﺪًﺍ ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ
ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢ ﻭَﺷَﺮَّ ﺍْﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
Kaum muslimin yang berbahagia!
Betapa besar karunia Allah Ta’ala kepada kita semua. Betapa tidak terhingga nikmat-Nya untuk kita semua. Ada yang kita sadari, namun lebih banyak yang luput dari kesadaran kita.
Marilah kita renungkan betapa banyak kedurhakaan kita kepada-Nya.
Betapa hari demi hari yang kita jalani tidak pernah luput dari kelalaian untuk mengingat-Nya.
Tapi dengan semua kelalaian itu, Allah
Azza wa Jalla tidak pernah lalai dan bosan untuk terus-menerus mencurahkan nikmatNya kepada kita. Semua kedurhakaan kita tidak menghalangi Dia yang Mahaperkasa untuk tetap menyelimuti kita dengan kasih sayangNya.
Dan hari ini, Ia masih mengizinkan kita untuk sekali lagi bersujud kepadaNya, untuk sekali lagi bertakbir dan bertahlil mengagungkan namaNya, dan untuk sekali lagi bertaubat kepadaNya.
Kita tidak pernah tahu, hadirin sekalian, boleh jadi inilah sujud terakhir kita padaNya di dunia ini. Inilah takbir dan tahlil terakhir kita untukNya. Dan inilah taubat kita untuk terakhir kalinya kepadaNya.
Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd.
Kaum muslimin rahimahukumullah!
Idul Adha akan selalu mengingatkan pada sosok Ibrahim alaihissalam dan keluarganya. Hari ini, di saat jutaan saudara kita kaum muslimin bergegas menyelesaikan prosesi ibadah haji yang agung, di tanah air ini, kita duduk sejenak untuk merenungkan pelajaran-pelajaran yang dititipkan Allah kepada kita melalui kisah monumental Nabi Ibrahim dan keluarganya ‘alaihimussalam.
Allah Ta’ala berfirman:
ﻗَﺪْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻓِﻲ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُ
“Sungguh bagi kalian terdapat teladan yang baik dalam (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya…” (al-Mumtahanah: 4)
Sosok Ibrahim ‘alaihissalam adalah teladan pengorbanan yang tulus. Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa seorang mukmin harus sepenuhnya hidup untuk sebuah obsesi dan cita-cita yang tinggi. Bahwa obsesi dan cita-cita seorang mukmin tidak akan pernah terhenti hingga ia menjejakkan kakinya di dalam Surga Allah. Obsesi dan cita-cita itulah yang membuatnya rela melakukan pengorbanan demi pengorbanan di kehidupan dunia yang terlalu singkat ini.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengajarkan kepada kita bahwa obsesi dan cita-cita hidup kita sepenuhnya harus selalu diukur dengan keridhaan dan kecintaan Allah Azza wa Jalla. Apa yang diridhai dan dicintai oleh Allah dan RasulNya, maka itulah obsesi dan cita-cita kita. Jika tidak, maka obsesi dan cita-cita itu harus segera kita hapus dan buang jauh-jauh dari kehidupan kita. Karena obsesi dan cita-cita yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala hanya akan membawa kehidupan kita dalam serial malapetaka dan kehancuran yang tidak akan habisnya.
Maka demi obsesi dan cita-cita tertingginya akan Surga, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
melintasi gurun sahara yang kering, di bawah cengkraman terik matahari dan pelukan malam-malam yang dingin. Dan ia tidak sendiri dalam perjalanan itu. Istri dan bayi mungilnya ikut serta “menikmati” perjalanan penuh obsesi itu. Obsesi akan Surga Allah.
Bayangkanlah, hadirin sekalian, betapa tidak mudahnya perjalanan itu! Tapi inilah caranya untuk membuktikan kepada Allah
Azza wa Jalla bahwa mereka sungguh-sungguh dengan obsesi tentang Surga itu. Dan kita semua tentu mengetahui bahwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarga kecilnya itu tidak berhenti sampai di situ.
Pertanyaan pentingnya untuk kita semua adalah:
Sudahkah obsesi dan cita-cita hidup kita sepenuhnya untuk Allah?
Jika jawabannya adalah iya, maka seberapa besar sudah pengorbanan yang kita tunjukkan kepadaNya untuk itu?
Bersyukurlah jika tahun ini kita ikut menyembelih hewan kurban, tapi untuk obsesi sehebat Surga, tentu harus lebih dari itu!
Dalam konteks pengorbanan ini pula, maka kita teringat kepada kisah heroik Keluarga Yasir di awal Islam, saat mereka melewati penyiksaan demi penyiksaan atas komitmen keislaman mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menghibur mereka dengan mengatakan:
ﺻَﺒْﺮًﺍ ﻳَﺎ ﺁﻝَ ﻳَﺎﺳِﺮٍ ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻣَﻮْﻋِﺪَﻛُﻢُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔُ
“Bersabarlah, wahai Keluarga Yasir! Karena sesungguhnya janji pertemuan kalian adalah Surga.”
Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd!
Kaum muslimin yang berbahagia!
Hingga detik ini, negeri kita yang mayoritas muslim ini terus-menerus menjadi panggung tempat dipentaskannya berbagai macam krisis dan tragedi akhlak dan moral yang memilukan.
Kisah-kisah para pejabat Negara yang korupsinya tidak pernah puas, yang didukung oleh kondisi penegakan keamanan dan keadilan yang berat sebelah dan memihak kepentingan tertentu, telah menjadi konsumsi rutin kita tiada henti. Pembasmian korupsi seperti lebih sering menemukan jalan buntu, namun penangkapan dengan dalih terorisme begitu sering mengukir prestasi.
Lalu tiba-tiba kita dikejutkan oleh seorang hakim pengadilan negeri yang tertangkap basah dalam pesta narkoba di sebuah hotel, yang tanpa ragu menggelontorkan uang sebesar 10 juta rupiah dalam satu malam itu saja!
Begitulah, ternyata krisis moral dan akhlak telah melanda orang-orang tua di negeri ini. Lalu bagaimana dengan generasi mudanya?
Menurut catatan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Kalimantan Timur, sepanjang tahun 2008 saja dari sekitar 300 lebih responden yang diteliti (Pelajar SMP dan SMA), sebagian besar di antaranya sudah sering berzina, bahkan ada yang sudah hamil.
Sekitar 14 % dari mereka melakukan perbuatan amoral (zina) itu di lingkungan sekolah, sedangkan 28 % dari mereka melakukannya di rumah. Sisanya, di tempat rekreasi dan di hotel-hotel.
Di Papua, terdapat sekitar ratusan pelajar yang mengidap HIV/AIDS. Dari jumlah tadi, 60 % lebih diderita pelajar asli asal Papua dan 40 % lagi pelajar non Papua (pendatang), sebagaimana disampaikan oleh Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPAD) Provinsi Papua.
Dan semua itu adalah fenomena gunung es. Sedikit yang terungkap, dan lebih banyak lagi yang tidak terungkap.
Kita juga tentu mengikuti fenomena tawuran antar pelajar dan mahasiswa yang seringkali disebabkan oleh hal-hal remeh yang tidak masuk di akal.
Dengan semua fenomena kebobrokan kaum muda Indonesia itu, kita kemudian dikejutkan dengan klaim sebuah media televisi bahwa lembaga-lembaga Rohis adik-adik kita di SMA adalah sarang pengkaderan teroris. Stasiun televisi itu lupa bahwa Rohis adalah benteng utama pembinaan moral anak-anak kita.
Kenyataan dan fakta ini tentu saja membuat kita bertanya: Mengapa itu semua terjadi?
Dalam konteks perjuangan Nabi Ibrahim, kita dapat mengatakan bahwa banyak generasi tua dan generasi muda telah kehilangan obsesi dan cita-cita hidup yang sesungguhnya. Banyak orang berjalan dalam obsesi-obsesi semunya.
Mereka semua mungkin tahu bahwa korupsi, berzina dan melakukan kezhaliman itu dosa. Tapi lemahnya obsesi dan cita-cita akhirat, membuat mereka takluk tak berdaya pada godaan dunia yang menghancurkan masa depan akhirat mereka.
Karena obsesi semacam ini pula, banyak orang tua yang lupa bahwa anak-anak mempunyai kebutuhan yang jauh lebih besar daripada uang dan materi. Mereka membutuhkan belaian cinta dan bimbingan penuh kasih sayang dari orang tua mereka.
Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd!
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Tapi harapan menjadi lebih baik selalu ada, sebagaimana pintu taubat Allah selalu terbuka bagi siapapun di antara kita yang ingin berubah menjadi hamba yang lebih baik.
Sekali lagi, marilah belajar dari Nabi Ibrahim alaihissalam. Beliau adalah teladan bagi setiap orang tua yang menyayangi anaknya. Beliau mengajarkan kepada kita cara yang benar dalam menyayangi anak kita. Bukan dengan memuaskan segala permintaannya, tapi dengan mendekatkan mereka kepada Allah dengan penuh hikmah dan kelembutan.
ﺇِﻥَّ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﻟَﺤَﻠِﻴﻢٌ ﺃَﻭَّﺍﻩٌ ﻣُﻨِﻴﺐٌ
“Sesungguhnya Ibrahim itu adalah seorang yang lembut, pengasih dan selalu kembali (kepada Allah).” (Hud: 75)
Inilah sifat dan karakter dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang tua: lemah lembut, pengasih dan yang tidak kalah pentingnya: selalu kembali dan bersandar kepada Allah yang Mahakuat.
Coba renungkan doa yang dipanjatkan Ibrahim karena kecintaannya kepada keluarga dan anak-anaknya:
ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺭَﺏِّ ﺍﺟْﻌَﻞْ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺒَﻠَﺪَ ﺁَﻣِﻨًﺎ ﻭَﺍﺟْﻨُﺒْﻨِﻲ ﻭَﺑَﻨِﻲَّ ﺃَﻥْ ﻧَﻌْﺒُﺪَ ﺍﻟْﺄَﺻْﻨَﺎﻡَ
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa: ‘Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku serta keturunanku dari menyembah berhala…” (Ibrahim: 35)
ﺭَﺏِّ ﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲ ﻣُﻘِﻴﻢَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺩُﻋَﺎﺀِ
“Wahai Tuhanku, jadikanlah aku sebagai orang yang menegakkan shalat, beserta keturunanku. Duhai Tuhan kami, terimalah doaku…” (Ibrahim: 40)
Kaum muslimin yang berbahagia!
Demikianlah kekhawatiran dan kegelisahan Ibrahim terhadap keturunannya. Karena itu, seperti Nabi Ibrahim, seharusnya kita selalu khawatir jika anak-anak kita akhirnya tidak lagi menyembah Allah dan menghambakan diri kepada selain Allah. Seharusnya kekhawatiran anak kita tidak shalat dan menjalankan perintah Allah lebih besar daripada saat ia kehilangan karirnya.
Di sinilah Nabi Ibrahim alaihissalam –sekali lagi- mengajarkan kepada kita untuk berani berkorban demi obsesi dan cita-cita akhirat kita.
Kita harus berani mengorbankan obsesi politik kita, jika itu hanya akan menghancurkan masa depan akhirat kita.
Kita harus berani mengorbankan obsesi karir dan jabatan kita, jika itu hanya akan membuat Allah murka kepada kita.
Kita harus berani mengorbankan obsesi nafsu kita, jika itu hanya akan membuat kita menyesal di saat penyesalan tidak akan pernah berguna lagi di Padang Mahsyar.
Semua obsesi keduniaan itu tidak akan membuat kita bahagia, jika pada akhirnya hanya akan menorehkan nama-nama kita dalam barisan makhluk yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla.
Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd
Hadirin yang dimuliakan Allah!
Kepada mereka yang mendapatkan amanah untuk memimpin dan mengatur negeri ini, mulai dari level nasional hingga level lokal…Kepada aparatur peradilan dan keamanan…Tunaikanlah amanah mengatur negeri ini dengan penuh rasa takut kepada Allah. Jangan pernah berlaku zhalim sedikit pun, karena itu –kata Rasulullah- akan menjadi kegelapan yang berlapis-lapis pada hari kiamat. Renungkanlah selalu firman Allah Ta’ala ini:
ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤْﺴَﺒَﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻏَﺎﻓِﻠًﺎ ﻋَﻤَّﺎ ﻳَﻌْﻤَﻞُ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤُﻮﻥَ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳُﺆَﺧِّﺮُﻫُﻢْ ﻟِﻴَﻮْﻡٍ ﺗَﺸْﺨَﺺُ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭُ
“Dan jangan pernah sekalipun engkau menyangka Allah akan lalai dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang zhalim. Sungguh Allah hanya mengulur mereka hingga hari di mana pandangan mata mereka terbelalak.”
(Ibrahim: 42)
Kepada rekan-rekan generasi muda, jangan pernah terlena dengan tubuh yang masih kuat, mata yang masih tajam, kulit yang mesih kencang dan usia yang belum tua. Semua itu sama sekali bukan jaminan bahwa perjalanan Anda di dunia masih lama. Sebab tua dan muda memiliki kedudukan yang sama di hadapan kematian. Gunakanlah tubuh yang kuat dan usia muda ini untuk bekerja meraih kesuksesan dunia dan akhirat Anda.
Kepada para muslimah yang mulia, kaum wanita adalah pilar utama bangunan suatu masyarakat. Dan kaum wanita hanya bisa menjadi pilar utama itu jika mereka tetap berada dalam fitrah kewanitaan mereka sesuai yang digariskan Allah dan RasulNya. Dan hari ini, Indonesia yang tertatih-tatih ini menanti kehadiran Anda, para wanita sejati, yang membelai dan mendidik anak-anaknya dengan cinta, yang belajar setinggi-tingginya agar dapat menjadi ibu yang cerdas dan bijak bagi anak-anaknya, bukan untuk yang lainnya…
Kepada para penanggung jawab dan pelaksana media informasi, pesan kami hanya satu: tulis dan sampaikan apa saja yang ingin Anda sampaikan, tapi ingatlah bahwa setiap kata dan ucapan itu akan Anda pertanggungjawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalla. Tak satu pun kata yang tertulis atau terucapkan yang akan luput dari pengadilan Allah kelak. Karenanya berhati-hatilah dengan pena dan ucapan Anda.
Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd
Kaum muslimin yang berbahagia!
Mari berkurban sesuai tuntunan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam , hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.
Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas.
Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi dia bisa mewakilkannya kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah.
Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya.
Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Nilai pahala hewan kurban seseorang di sisi Allah Ta’ala tidak hanya diukur dengan banyaknya daging yang dihasilkan atau banyaknya darah yang dikucurkan, tetapi sifat keikhlasan pemiliknya, olehnya itu luruskanlah niat hanya mengharap balasan dariNya semata.
Dan karena hari ini bertepatan dengan hari Jum’at, maka perlu diketahui jika hari raya bertemu dengan hari Jum’at, maka kewajiban shalat Jum’at menjadi gugur bagi kaum pria yang mengikuti shalat Ied, sehingga ia hanya wajib mengerjakan shalat Zhuhur. Namun yang afdhal jika ia tetap hadir shalat Jum’at. Tetapi para imam dan khathib Jum’at diharapkan tetap menunaikan shalat Jum’at, agar syiar Jum’at tetap terjaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﺟْﺘَﻤَﻊَ ﻓِﻲ ﻳَﻮْﻣِﻜُﻢْ ﻫَﺬَﺍ ﻋِﻴﺪَﺍﻥِ ﻓَﻤَﻦْ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﺟْﺰَﺃَﻩُ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻣُﺠَﻤِّﻌُﻮﻥَ
“Telah bertemu pada hari kalian ini 2 hari raya. Maka barang siapa yang mau, maka shalat Ied itu telah mencukupkannya dari shalat Jum’at, tetapi kami (tetap) melaksanakan shalat Jum’at.”
Hadirin yang berbahagia!
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd!
Akhirnya, di ujung khutbah ini, marilah kita tundukkan hati dan jiwa serta seluruh tubuh ini kepada Allah, untuk berdoa dengan penuh keikhlasan padanya.
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺍﻷﻣﻴﻦ ﻭ ﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ،
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻙَ ﺑِﺄَﻧَّﻚَ ﺃَﻫْﻞٌ ﺃَﻥْ ﺗُﺤْﻤَﺪ ﻭَﻧَﺸْﻜُﺮُﻙَ ﺑِﺄَﻧَّﻚَ ﺃَﻫْﻞٌ ﺃَﻥْ ﺗُﺸْﻜَﺮ ﻭَﻧُﺜْﻨِﻲْ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَ ﻛُﻠَّﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﻤَﺠْﺪِ ﻭَﺍﻟﺜَّﻨﺎَﺀِ ، ﺭَﺑَّﻨﺎَ ﻇَﻠَﻤْﻨﺎَ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻨﺎَ ﻇُﻠْﻤﺎً ﻛَﺜِﻴْﺮﺍَ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮْﺏَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨﺎَ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِﻙَ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨﺎَ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮْﺭُ ﺍﻟﺮَﺣِﻴْﻢ
Duhai Allah yang Maha pengasih, yang Mahalembut…kami tidak pernah sanggup menghitung karuniaMu kepada kami, seperti kami tidak pernah sanggup menghitung berapa banyak kedurhakaan kami kepadaMu. Seharusnya kami patuh pada perintahMu, tapi kami lebih sering durhaka. Seharusnya kami jauhi laranganMu, tapi kami lebih sering mengikuti hawa nafsu kami…
Duhai Allah yang Maha pengampun, tidak ada yang mampu mengampuni dan menutupi semua dosa kami selain Engkau. Engkaulah Penguasa segalanya. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa yang berserakan di sepanjang hidup kami…Ampuni kelalaian kami mengingatMu…Ya Allah, jika Engkau tak lagi berkenan mengampuni kami, maka entah ke mana lagi kaki ini melangkah mencari pengampunan itu…
Duhai Allah yang Maha melihat, yang Maha mendengar…hari ini, untuk kesekian kalinya kami menundukkan jiwa kami dan mengakui betapa seringnya kami durhaka kepada kedua orang tua kami. Tidak jarang kami membantah dan berbicara tidak pantas kepada mereka…Betapa seringnya kami mengabaikan keperluan mereka…Kami seringkali lupa bahwa mereka-lah pintu kami memasuki Surga-Mu, ya Allah.
Duhai Allah yang Maha luas ampunanNya, ampunilah semua kedurhakaan dan kelalaian kami kepada mereka…liputilah kedua orang tua kami dengan ampunan dan rahmatMu…terangi alam kubur mereka yang telah tiada dan berikan kekuatan beramal shaleh kepada mereka yang masih hidup…Ya Allah, izinkan kami untuk berbakti sebaik mungkin kepada mereka hingga kehidupan kami berakhir di dunia ini…
Ya Allah, yang Maha perkasa dan Maha bijaksana…Nun jauh di sana, ratusan bahkan ribuan saudara kami sedang melewati episode-episode yang berat dalam hidup mereka. Di Suriah, Irak, Palestina dan tempat lainnya, saudara-saudara kami tetap membesarkan dan mengagungkan Nama-Mu di bawah cengkraman musuh-musuhMu yang zhalim. Ya Allah, tidak ada satupun yang luput dari pengetahuanMu…Dengan keMahakuasaanMu, segerakanlah pertolongan dan kemenangan untuk mereka…Segerakanlah kehancuran dan kekalahan kepada siapapun yang berkonspirasi menzhalimi mereka, Ya ‘Aziz, Ya Jabbar, Ya Dzal Jalaali wal ikram…
Ya Allah, Tuhan yang Maha mendengar dan Maha melihat…karuniakanlah kepada kami pemimpin-pemimpin yang tidak pernah takut kecuali kepadaMu. Berikan hidayah kepada mereka untuk selalu beribadah dan menegakkan ketetapanMu…Karuniakanlah kepada kami para pemimpin yang memimpin kami dengan cinta, yang tulus memimpin untuk kebaikan kami di dunia dan akhirat…
Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami. Kami adalahlah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.
ﺭَﺑَّﻨﺎَ ﻻَ ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮْﺑَﻨﺎَ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨﺎَ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨﺎَ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ ،
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻲ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ،
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻚَ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌِﺰَّﺓِ ﻋَﻤَّﺎ ﻳَﺼِﻔُﻮْﻥَ ﻭَﺳَﻼَﻡٌ ﻋَﻠَﻰ ﺍْﻟﻤُﺮْﺳَﻠِﻴْﻦَ ﻭَﺍْﻟﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍْﻟﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ ، ﻭَﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺒِﻴِّﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴْﻦَ
sumber:senyumsukurbahagia

MOTIVASI: Kado Surga Untuk Ayah

Seorang anak berumur 10 th namanya Umar..dia anak pengusaha sukses yg kaya raya.. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta..tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal..tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah..wong uangnya berlimpah… Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang..agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya...
Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.. “Waduuuh saya sibuk ma..kamu aja deh yg datang..” begitu ucap si ayah kpd isterinya..bagi dia acara beginian sangat nggak penting..dibanding urusan bisnis besarnya.. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam..sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya..dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya..sedang anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya…
Nah karena diancam isterinya..akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah2an.. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya.. Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang..sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yg akan tampil di panggung…
Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2..ada yg menyanyi..menari..membaca puisi..pantomim..ada pula yg pamerkan lukisannya..dll.. Semua mendapat applause yg gegap gempita dari ayah2 mereka…tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya..
“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief..” tanya si Umar kpd gurunya..pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu… ”Oh boleh..” begitu jawab gurunya..dan pak Ariefpun dipanggil ke panggung…
“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya…”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.. “Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yg salah..” lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan)..dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram)…
Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu…termasuk ayah si Umar yg duduk dibelakang…”Stop..kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna..sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar… lalu Umarpun membaca ayat 9…”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief:“Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”..si Umarpun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai”...
“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya…para hadirin yg muslimpun tak kuasa menahan airmatanya…
Lalu pak Arief bertanya kepada Umar:”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain..?” begitu tanya pak Arief penasaran…
Begini pak guru…waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak..bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW: ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an. ” (H.R. Al-Hakim)…
“Pak guru..saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak..sebagai seorang anak yg berbakti kpd kedua orangnya..” Semua orang terkesiap dan tdk bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb… Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengan teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yg lari dari belakang menuju ke panggung…
Ternyata dia ayah si Umar..yg dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak..bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.. ”Ampuun nak.. maafkan ayah yg selama ini tidak pernah memperhatikanmu..tdk pernah mendidikmu dengan ilmu agama..apalagi mengajarimu mengaji…” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya…” Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak…ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak…ayah maluuu nak" ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu2…subhanallah...

MOTIVASI: Diary Ayah dan Burung gagak

Seorang ayah berumur 80 tahun dan anak lelakinya yang berumur 45 tahun sedang menikmati waktu bersama di beranda. Si anak adalah seorang profesor yang sudah mapan dan memiliki keluarga yang bahagia. Namun ia hanya sesekali datang mengunjungi ayahnya di akhir pekan.
Situasi sore yang santai itu tiba-tiba terusik dengan kedatangan seekor burung yang tiba-tiba hinggap di pagar dekat tempat mereka duduk. Si ayah yang sudah tua penasaran dan bertanya pada anaknya, “Burung apa itu?”
“Itu burung gagak,” jawab si anak.
Setelah beberapa menit, si ayah bertanya lagi, “Burung apa itu?”
“Aku baru saja memberitahumu. Itu burung gagak, ayah!” si anak menjawab dengan ekspresi muka yang kesal.
Si burung yang bertengger di pagar belum terbang, si ayah kembali bertanya untuk yang ketiga kalinya.
“Burung apa itu?”
Dengan raut muka yang semakin kesal dan nada yang keras, si anak menjawab lagi, “Itu gagak, burung gagak. Jelas?!”
Tidak hanya berhenti di situ, sang ayah yang tua renta kembali bertanya pada anaknya untuk keempat kalinya, “Burung apa itu, nak?”
Si anak semakin kesal dan mulai marah, ia merasa sebal karena ayahnya yang tua itu sudah tidak bisa lagi berpikir jernih, “Kenapa kamu terus bertanya seperti itu? Kamu ini tidak bisa mendengar atau bagaimana? Itu burung gagak. BURUNG GAGAK!” teriaknya.
Sang ayah kemudian berjalan tertatih ke kamarnya. Saat keluar ia membawa sebuah buku diary yang sudah usang. Semasa muda, sang ayah gemar menulis kegiatan hariannya di buku tersebut termasuk saat si anak masih kecil.
Pria tua itu membuka sebuah halaman dan menyuruh anaknya untuk membaca tulisan di halaman tersebut.
“Hari ini anak laki-lakiku berumur tiga tahun. Ia sedang duduk di pangkuanku. Kami melihat seekor gagak hinggap di dekat jendela. Anak laki-lakiku yang aku sayangi bertanya 23 kali tentang binatang yang baru dilihatnya untuk pertama kali itu dan akupun menjawabnya sebanyak 23 kali, berusaha memberitahunya bahwa itu adalah seekor burung gagak.
Aku memeluknya dengan penuh kasih sayang setiap kali ia bertanya padaku. Aku sama sekali tidak merasa terganggu karena aku sangat menyayangi anakku.”
Dari cerita ini kita bisa melihat bagaimana terkadang kita telah memperlakukan orangtua kita secara semena-mena. Kita tidak ingat bahwa semasa kecil, mereka dengan sabar mengajari dan mendidik kita hingga bisa tumbuh dewasa seperti sekarang ini.
Jadi saat orangtua Anda sudah beranjak tua, jangan pernah menyia-nyiakan mereka. Ingatlah pengorbananan ayah atau ibu Anda semasa Anda masih kecil. Sayangilah mereka seperti mereka menyanyangi Anda dulu

MOTIVASI: Ceritera Menyentuh Hati

1. Akhir Suami Isteri
2. Al kisah ada suami isteri di usia senja. Tinggal di rumah yg telah dihuni puluhan tahun. Dua anak mereka telah mandiri.
3. Suami pensiunan, sedang isteri ibu rumah tangga. Mereka lebih memilih tinggal di rumah yg skrg meski anak2 meminta mereka pindah.
4. Jadilah mereka berdua yg sudah renta, menghabiskan waktu sisa di rumah yg telah jadi saksi ribuan bahkan jutaan peristiwa.
5. Suatu saat lepas senja bada halat Isya, di masjid tak jauh dari rumah, isteri tak temukan sandalnya.
6. Saat sibuk mencari, suami menghampiri: “Kenapa, Bu?” Isteri menoleh sambil berkata: “Sandal ibu gak ketemu Pak”.
7. “Ya sudah gak apa2. Pakai sandal ini saja”, kata suami sambil sodorkan sandal yg dipakainya. Walau ragu, isteri kenakan sandal bapak.
8. Menuruti perkataan suami adalah kebiasaannya. Jarang membantah. Paham kegundahan isteri, suami genggam lengan isteri.
9. Pikiran suami berkelebat. Bgmnpun aku bisa melangkah karena ditopang kaki isteriku selama puluhan tahun.
10. Terimakasih sebanyak, sebesar, dan sedalam apapun takkan pernah setimpal dg apa yg telah dilakukan untukku.
11. Kaki isterinya yg mungil, selalu berlari kecil membukakan pintu utk-ku saat aku pulang kerja. Juga di tengah2 malam.
12. Kaki yg telah antar anak2 ke sekolah tanpa kenal lelah. Kaki yg menyusuri bbg tempat mencari kebutuhanku dan anak2 di rumah.
13. Sang isteri memandang suaminya sambil tersenyum. Dg tulus mereka kembali ke rumah setelah shalat Isya berjamaah di masjid.
14. Di usia lanjut, penyakit diabet telah menyerang pandangan mata isteri. Saat kesulitan merapihkan kuku, suami dg lembut membantu.
15. Suami ambil gunting kuku dari tangan isteri. Jari2 yg sudah keriput digenggam suami. Lalu dipotong kuku isteri.
16. Setelah selesai, dikecup jemari isteri. Suami lirih berkata: “Terimakasih ya, Bu”. Sembari tersenyum suami memandang wajah isteri.
17. “Tidak, Pak. Ibu yg seharusnya berterimakasih. Bapak telah membantu memotong kuku Ibu”, tukas isteri tersipu2.
18. “Terimakasih utk semua pekerjaan luar biasa repotnya, yg tentu tak sanggup aku lakukan”.
19. “Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun”, kata suami tulus.
20. Mata ibu sembab. Dua titik air mata menggayut di mata isteri. “Bapak koq bicara begitu?” Ibu senang atas semuanya, Pak.
21. Apa yg telah kita lalui bersama adalah sesuatu yg luar biasa. Ibu selalu bersyukur pd keluarga, baik atau buruk. Semua kita hadapi.
22. Hari Jumat yg cerah, suami siap berangkat ke masjid. Setelah pamit, suami menoleh sekali lagi pd isteri. Wajah Bapak teduh, bening.
23. Tak ada tanda apapun, seperti biasa. Hingga bbrp saat kemudian, bbrp org mengetuk pintu memberi kabar yg tak pernah diduga.
24. Inalillahi waina ilahihi rojiun. Bapak, suaminya, siang itu telah menyelesaikan perjalanan di dunia. Menghadap Sang Khalik.
25. Bapak pulang saat sedang duduk di tahiyat akhir Shalat Jumat. Telunjuknya masih sempurna menunjuk Kiblat.
26. Subhanallah, sungguh akhir perjalanan hidup yg indah. Demikian gumam para jama’ah setelah menyadari ada jamaah yg wafat saat shalat.
27. Ibu tersadar, ketika bapak menoleh lagi sebelum beranjak keluar pagar. Terbayang tatapan terakhir Bapak. Senyumnya teduh.
28. Apakah itu tanda bahwa suaminya berat hati akan meninggalkan isteri untuk selamanya? Ibu mendesah sesunggukkan.
29. Bbrp hari kemudian, Ibu bermimpi bertemu suaminya. Dg wajah cerah, suami hampiri dirinya. Membelai rambutnya selembut dulu.
30. “Apa yg Bapak lakukan?” tanya isteri bercampur bingung. “Ibu harus kelihatan cantik. Kita akan lakukan perjalanan jauh”.
31. “Bapak tak bisa tanpa ibu. Bahkan setelah kehidupan dunia ini berakhir sekalipun. Bapak selalu butuh Ibu”.
32. “Saat Bapak disuruh memilih pendamping, Bapak bingung. Bapak bilang pendamping saya tertinggal. Saya mohon izin untuk menjemputnya”. 
33. Isteri menangis sebelum akhirnya berkata: “Ibu ihlas Bapak pergi. Tapi Ibu tak bisa bohong kalau Ibu takut sekali sekarang sendirian”.
34. “Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi, apalagi untuk selamanya, tentu tidak akan Ibu sia2kan”.
35. Tangis ibu berganti dengan senyuman. Senyum vgv yang indah dalam mimpi ibu yang terakhir pula.
36. Tetangga berdatangan, memandikan jenazah seorang wanita, yang hanya tiga hari setelah ditinggal Bapak.
37. “Isterimu adalah bajumu. Dan suami itu adalah bajumu pula (Al Baqarah 187).

MOTIVASI: Mengatasi Penundaan Pekerjaan

PEKERJAAN menjadi suatu hal yang tidak bisa lepas dari diri kita. Sebab, pada dasaranya manusia dianjurkan untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan menjadi seorang pekerja yang baik adalah kunci sebuah kesuksesan.

Menjadi pekerja yang baik, kita akan selalu cepat tanggap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Tapi, tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan dari kita yang masih saja menunda-nunda pekerjaan. Padahal, kebiasaan seperti ini sangat berbahaya bagi karirnya di masa depan. Lalu, bagaimana cara menghilangkan salah satu kebiasaan buruk itu?

Masalah utama yang menyebabkan kita suka menunda-nunda adalah lemahnya dalam memutuskan prioritas. Pekerjaan kita banyak, maka kita harus memiliki prioritas, sehingga ada pekerjaan yang jelas harus kita lakukan. Saat tidak ada prioritas, maka semua akan mengambang, semua akan tertunda, sebab pikiran kita bingung.

Anda harus mengambil keputusan, mana yang menjadi prioritas. Jika Anda bekerja mandiri atau seorang pebisnis, yang diperlukan adalah keberanian untuk memutuskan dan menunda bahkan menghilangkan pekerjaan yang tidak diperlukan.

Jika Anda masih bekerja kepada orang lain, maka yang diperlukan adalah komunikasi yang baik dengan atasan agar bisa menentukan prioritas pekerjaan. Dengan komunikasi yang baik, seharusnya akan jelas mana yang menjadi prioritas, mana yang tidak.

Masalah kedua yang menjadikan kita biasa menunda-nunda pekerjaan adalah banyaknya gangguan. Banyak sekali gangguan yang bisa merusak fokus kita. Sehingga saat kita akan melakukan sebuah pekerjaan, datang gangguan, kemudian kita beralih ke gangguan tersebut.

Disinilah, kita harus bisa mengkondisikan diri agar gangguan tersebut berkurang. Email, telephon, Facebook, twitter, BBM, WhatAps, dan sebagainya bisa menjadi gangguan juga. Silahkan atur sedemikian hingga agar tidak lagi merusak konsentrasi yang ujung-ujungnya menunda pekerjaan.

Masalah ketiga yang menyebabkan kita menunda-nunda pekerjaan adalah kurangnya kejelasan dan kekuatan tujuan. Ini juga berkaitan dengan prioritas. Jika tidak ada tujuan yang jelas, maka akan sulit membuat prioritas. Maka langkah pertama adalahmembuat tujuan terlebih dahulu.

Dua hal yang penting dari sebuah tujuan adalah kejelasan yang kekuatan tujuan. Kejelasan akan menjadikan Anda lebih fokus dan mudah membuat prioritas. Sementara kekuatan tujuan agar bisa menarik Anda agar segera melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. 

Berikut cara hentikan kebiasaan menunda pekerjaan:

1. Buat daftar

Anda bisa memulai dengan membuat daftar hal-hal yang harus dikerjakan. Dengan adanya daftar pekerjaan ini Anda jadi akan lebih fokus dengan pekerjaan. Sebelum semua pekerjaan di daftar tersebut dikerjakan, Anda tidak boleh bersantai-santai apalagi main game.

2. Batas waktu

Tentukan batas waktu Anda sendiri. Targetkan waktu berapa lama kiranya Anda harus menyelesaikan pekerjaan yang ada di daftar tadi. Dengan berpacu bersama waktu, maka Anda akan sadar bahwa tidak ada waktu untuk bermain-main.

3. Jangan meremehkan

Kebanyakan orang menunda pekerjaan karena meremehkan pekerjaan. Menurut mereka pekerjaan itu bisa diselesaikan dengan mudah. Jangan pernah bersikap seperti itu,

semudah apa pun tugas yang Anda terima, sebaiknya segera kerjakan. Anda boleh bersantai jika pekerjaan itu sudah selesai.

4. Sikap disiplin

Kebiasaan menunda pekerjaan itu dikarenakan Anda tidak punya sifat disiplin. Karena orang yang disiplin itu tidak pernah bermain-main di jam kerja. Jika Anda masih menunda-nunda pekerjaan, itu artinya Anda tidak punya sikap disiplin.

5. Harus fokus

Pikiran yang tidak fokus akan membuat Anda tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan . Akibatnya, Anda akan merasa malas bekerja dan kemudian lebih memilih main game daripada menyelesaikan pekerjaan. Agar hal itu tidak terjadi, maka Anda harus fokus pada pekerjaan.

6. Lingkungan mendukung

Saat handphone berbunyi, Anda pun akan berhenti bekerja dan malah asik mengobrol dengan pacar. Akibatnya, pekerjaan Anda akan tertunda dan menumpuk. Karenanya, faktor lingkungan Anda bekerja pun harus nyaman dan tenang, agar tidak ada yang mengganggu.

sumber: islampos, ciricara



Daftar resto, bakery dan cafe besar bersertifikat halal dari MUI


Alhamdulillah, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) telah mesosialisasikan daftar resto, bakery, dan cafe besar bersertifikat halal periode 2015 pada lama resminya.

Proses sertifikasi halal dilakukan LPPOM MUI baik untuk perusahaan besar yang mengajukannya secara mandiri ataupun gratis. Untuk Usaha Kecil Menengah (UKM), fasilitasi sertifikasi dilakukan LPPOM MUI bekerja sama dengan Pemerintah/Instansi terkait seperti Kementrerian Agama RI, Badan Pemeriksa Obat dan Makanan, Kementerian KUKM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Perindustrian Kota/Kabupaten untuk memberikan fasilitasi sertifikasi halal gratis kepada UKM.

Berikut daftar resto, bakery, dan cafe besar bersertifikat halal MUI yang di00kutip dari laman resmi MUI

Domino PizzaPizza HutTexas Fried ChickenKFCCalifornia Fried ChickenCountry Style DonutsDunkin DonutsAh Mey RestoD'CostSolariaD'SushibodoLotteriaHoka Hoka BentoA&WJacklyn BakeryD'Stupid BakerySushi BarRoti BoyMcDonaldsPho 21Wendy'sYoshinoyaSushi MiyabiBonChonStarbucks (Baru dapet di September 2014)Killiney Kopi TiamMayestik Bakery

Adapun catatan dari MUI yang perlu kita perhatikan bahwa, "Untuk yang tidak/belum bersertifikat halal, prinsip MUI adalah: "Belum tentu haram, namun MUI tidak menjamin kehalalannya".

"Bread Talk pernah mengajukan untuk mendapatkan sertifikat halal, namun GAGAL dalam uji kehalalan."

Sementara jaringan resto/bakery/cafe besar yang TIDAK/BELUM memiliki Sertifikat Halal MUI adalah: Hanamasa, Burger King, Coffee Bean, Excelso, Roti O, dan JCo.

Untuk lebih lengkap, sila unduh daftar perusahaan pangan, obat, dan makanan yang tersertifikasi halal MUI pada link berikut.

Semoga dengan mengonsumsi pangan, makanan dan obat yang halal, tubuh kita akan senantiasa sehat dan meningkatkan keberkahan hidup kita, aamiin , sesuai sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berikut.

"Barang siapa mengusahakan buat keluarganya dari barang yang halal, maka ia ibarat seorang pejuang di jalan Allah. Dan barangsiapa mencari dunia yang halal dengan menjaga diri dari sesuatu yang tak berguna, maka ia menduduki derajat seperti derajat seorang syuhada." (Hadis Riwayat Ath-Thabrani), dan

"Barangsiapa memakan makanan yang halal selama empat puluh hari maka Allah akan menyinari qolbunya dan akan memancarkan ilmu hikmat dari qolbunya ke lisannya." (Hadis Riwayat Abu Nuaim)."

Dengan demikian, beberapa hadits tersebut menunjukkan bahwa mengonsumsi sesuatu yang halal saja itu merupakan penghulu dari peribadatan apa pun, sebab diterima atau tidaknya suatu ibadah atau doa, tergantung dari apa yang seseorang konsumsi

sumber: arrahman