KHUTBAH: Membelakangi Al-Quran


ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻠْﻪُ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ . ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ . ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃُﻭْﺻِﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻱَ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘُﻮْﻥَ . ﻗَﺎﻝَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ . ﻗَﺎﻝَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ . ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ . ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ .
ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪَ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺷَّﺮَ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ . ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺒِﻴِّﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ .
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, pada kesempatan yang insya Allah diberkahi Allah ini akan kami kemukakan tentang membelakangi Al-Qur’an adalah masalah besar.
Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW lewat Malaikat Jibril sebagai pedoman utama ummat Islam. Menjadi kewajiban bagi ummat Islam untuk mengangkat Al-Quran sebagai landasan utama dalam mengamalkan Islam di samping berpedoman pula kepada Hadits Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam . Mengimani seluruh isi Al-Quran hukumnya wajib, sedang mengingkari satu bagian dari ayat Al-Quran saja hukumnya murtad alias keluar dari Islam. Jadi iman kepada seluruh ayat Al-Quran itu mutlak wajibnya. Dan keimanan itu harus dibuktikan dengan amal. Sedang membaca Al-Quran itu sendiri nilainya adalah ibadah.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, meskipun kedudukan Al-Quran itu demikian tingginya dalam Islam, namun belum tentu orang yang mengaku dirinya Muslim mau memperhatikan kitab sucinya itu. Padahal tidak memperhatikan kitab suci Al-Quran itu bukan masalah kecil, namun merupakan masalah besar. Sehingga Nabi Muhammad n pun mengeluhkan akan ada diantara kaumnya yang tidak memperhatikan Al-Quran; bahkan keluhan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam itu langsung difirmankan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala :
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺇِﻥَّ ﻗَﻮْﻣِﻲ ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁَﻥَ ﻣَﻬْﺠُﻮ ‏[ ﺍﻟﻔﺮﻗﺎﻥ 30/ ‏]
Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diperhatikan.” (QS. Al-Furqon [25] : 30)
Siapakah yang rasa cinta kasihnya kepada ummatnya melebihi Nabi Muhammad
Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang berdo’a untuk ummatnya sampai menangis, hingga Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi Muhammad
Shallallaahu ‘alaihi wasallam menangis? Nabi
Shallallaahu ‘alaihi wasallam-lah yang sangat mencintai ummatnya. Dalam hadits Shahih Muslim diriwayatkan:
ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋَﻤْﺮِﻭ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻌَﺎﺹِ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺗَﻼَ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻓِﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ‏( ﺭَﺏِّ ﺇِﻧَّﻬُﻦَّ ﺃَﺿْﻠَﻠْﻦَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻨِﻰ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣِﻨِّﻰ ‏) ﺍﻵﻳَﺔَ .
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻋِﻴﺴَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ‏( ﺇِﻥْ ﺗُﻌَﺬِّﺑْﻬُﻢْ ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻢْ ﻋِﺒَﺎﺩُﻙَ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴﻢُ ‏) ﻓَﺮَﻓَﻊَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ‏« ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃُﻣَّﺘِﻰ ﺃُﻣَّﺘِﻰ ‏» . ﻭَﺑَﻜَﻰ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻳَﺎ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ ﺍﺫْﻫَﺐْ ﺇِﻟَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺭَﺑُّﻚَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﻓَﺴَﻠْﻪُ ﻣَﺎ ﻳُﺒْﻜِﻴﻚَ ﻓَﺄَﺗَﺎﻩُ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ – ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﻭَﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ – ﻓَﺴَﺄَﻟَﻪُ ﻓَﺄَﺧْﺒَﺮَﻩُ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺑِﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ . ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺎ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ ﺍﺫْﻫَﺐْ ﺇِﻟَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻓَﻘُﻞْ ﺇِﻧَّﺎ ﺳَﻨُﺮْﺿِﻴﻚَ ﻓِﻰ ﺃُﻣَّﺘِﻚَ ﻭَﻻَ ﻧَﺴُﻮﺀُﻙَ .
Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam (hal perkataan) Nabi Ibrahim, “Ya Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim [14] : 36). Dan seterusnya. Dan berkata Isa a.s: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maaidah [5] : 118). Lalu Nabi Muhammad saw mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Alllah, ummatku ummatku” dan beliau menangis. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, ‘Hai Jibril, temuilah muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia, apa yang menjadikan kamu menangis?’ Lalu Jibril mendatangi Nabi saw dan menanyainya. Maka Rasulullah saw memberi khabar pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang Dia mengetahui. Lalu Allah berfirman, ‘Hai Jibril, temuilah muhammad, lalu katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhoimu dalam ummatmu dan Aku tidak menjadikanmu sedih’.” (HR. Muslim dengan Syarah An-Nawawi No. 346—202452)
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim mengemukakan bahwa sikap Nabi
Shallallaahu ‘alaihi wasallam itu adalah merupakan kasih sayang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam sempurnanya terhadap ummatnya dan perhatiannya terhadap kemaslahatan mereka, dan konsennya terhadap urusan ummatnya.
Lebih dari itu, siapakah yang lebih berperasaan kasih sayang terhadap seluruh manusia melebihi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan:
ﺍِﺭْﺣَﻤُﻮْﺍ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍْﻷَﺭْﺽِ ﻳَﺮْﺣَﻤْﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ‏[ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ، ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ﻓﻲ ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻷﺣﻮﺫﻱ ﺭﻗﻢ 1930 ‏] .
“Sayangilah orang yang di bumi niscaya kamu akan disayangi oleh (Allah) Yang di langit.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Hasan Shohih, dalam syarah Jami’ut Tirmidzi —Tuhfatul Ahwadzi— No. 1930)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, menurut kebiasaan manusia yang berperasaan mencintai, tingkah laku orang yang dicintai selalu dipandang baik, dibela dan kalau ada kesalahan diusahakan untuk dimaafkan dengan berbagai jalan. Kebiasaan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga betapa besar semangat Nabi
Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar kerabatnya yang dihormati masuk Islam. Karena bersemangatnya itu, sesuai dengan rasa cintanya, karena memang kerabatnya ini (Abu Thalib paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam) membela Nabi dalam hal penyiaran Islam, namun Allah Subhannahu wa Ta’ala menegurnya:
ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺎ ﺗَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎﻟْﻤُﻬْﺘَﺪِﻳﻦَ ‏[ ﺍﻟﻘﺼﺺ 56/ ‏]
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qoshosh [28] : 56)
Tebalnya rasa kasih sayang Nabi Muhammad
Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tiada bandingannya itu ternyata masih dikalahkan oleh hati kerabatnya itu sendiri (Abu Thalib, paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ) yang memang tidak mau masuk Islam. Demikian pula kasih sayang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam masih dikalahkan oleh perbuatan kaumnya yang menjadikan Nabi sampai mengeluh kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , lantaran kaumnya membelakangi Al-Quran, tidak menggubris Al-Quran.
Sebenarnya, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itu keterlaluan. Betapa tidak. Rasa kasih sayang, bahkan kesabaran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam bisa disimak dari sikapnya ketika dalam perang Uhud beliau berdarah wajahnya, dan beliau mengusap darah di wajahnya itu sambil berkata:
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻘَﻮْﻣِﻲْ ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻢْ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ . ‏[ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭ ﻣﺴﻠﻢ ‏] .
Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, sikap tidak menggubris Al-Quran, membelakangi, berpaling dari ayat-ayat Allah itu sama sekali bukan kejahatan yang ringan dan mengaduhnya Nabi atas sikap kaumnya yang tak menghiraukan Al-Quran itu, bukan berarti menunjukan keputusasaan beliau. Tidak. Namun, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itulah yang tak tahu diri. Terbukti, Nabi
Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu. Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang membelakangi Al-Quran atau berpaling dari Al-Quran, dengan firmanNya,
ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻇْﻠَﻢُ ﻣِﻤَّﻦْ ﺫُﻛِّﺮَ ﺑِﺂَﻳَﺎﺕِ ﺭَﺑِّﻪِ ﻓَﺄَﻋْﺮَﺽَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻭَﻧَﺴِﻲَ ﻣَﺎ ﻗَﺪَّﻣَﺖْ ﻳَﺪَﺍﻩُ ‏[ ﺍﻟﻜﻬﻒ 57/ ‏]
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (QS. Al-Kahfi [18] : 57)
Lima golongan yang membelakangi Al-Quran
Sikap mengabaikan Al-Quran yang sangat dikecam itu jelas disebut oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri dilakukan oleh kaumnya. Kaumnya itu bukanlah hanya bangsa Arab, bukan hanya bangsa Quraisy, namun adalah kaum yang ada ketika Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus dan sesudah itu.
Lantas, siapakah mereka yang termasuk jelas-jelas berpredikat menjadikan Al-Quran di belakang punggungnya itu?
Menurut Ibnu Qoyim ada 5 jenis atau 5 macam orang yang termasuk berpaling dari Al-Qur’an.
Lima macam orang yang membelakangi Al-Quran itu, menurut Ibnu Qoyim adalah:
1. Berpaling dari mendengarkan dan mengimani Al-Quran
2. Berpaling dari mengamalkan Al-Quran walaupun membaca dan mengimaninya.
3. Berpaling dari menegakkan dan menggunakan hukum-nya.
4. Berpaling dari mengkaji dan memahami artinya.
5. Berpaling dari berobat dan mengobati orang lain dengan Al-Quran dalam seluruh penyakit hati. (Lihat Tafsir Mahaasinut Ta’wil 12/575)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, setelah kita mendapatkan penjelasan ayat-ayat Allah seperti ini, apakah kita melupakannya lagi seperti yang telah diperingatkan Allah tersebut?
Kita tahu, bahwa Allah memberikan tuntunan kepada manusia adalah demi kebahagiaan manusia itu sendiri di dunia dan akherat. Dan kita tahu, Allah adalah Rouufur Rahiem, Maha kasih sayang yang amat sayang, hingga kepada umat Islam diberi petunjuk-petunjuk komplit, sampai model pakaian untuk muslimah, misalnya, itupun dengan sikap dan sifat kasih sayangNya Allah masih ‘sudi’ menunjuki, lewat Al-Quran. Maka pantas kalau Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengeluh dengan sangat menyayangkan sikap sebagian kaumnya yang berpaling dari Al-Quran, dan Allah pun menyebut kaum macam itu sebagai terlalu zhalim. Dalam bahasa pergaulan manusia sehari-hari bisa disebut ‘disayangi tapi malah tak tahu diri’. Lebih-lebih kalau sampai berani mencari-cari alasan untuk membenarkan sikap berpalingnya itu. Sikap semacam itu lebih dahsyat lagi hingga Allah mengemukakan pertanyaan yang cukup dahsyat pula,
ﻗُﻞْ ﺃَﺗُﻌَﻠِّﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﺪِﻳﻨِﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ‏[ ﺍﻟﺤﺠﺮﺍﺕ 16/ ‏]
Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan mengajari Allah tentang agamamu (keyakinanmu) padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hujurat [49] : 16)
Usaha Mengikis
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, sikap berpaling dari Al-Quran yang telah dikeluhkan oleh Nabi dan dikecam oleh Allah itu, bisa dikikis dengan berbagai usaha. Nan jauh di desa-desa pelosok sana, betapa banyak masjid, musholla dan langgar yang setiap malamnya untuk bertadarrus di bulan Ramadhan. Semangat mereka tetap tinggi, walau lampu-lampu yang menerangi kadang-kadang sangat sederhana, bahkan minyaknya pun tersendat-sendat. Sudahkah kita menyumbangkan sesuatu untuk mereka? Kitab-kitab Mushaf Al-Quran yang mereka baca pun sudah rusak. Sudahkah kita pikirkan? Sebaliknya, di masjid-masjid kota yang cukup terang benderang dan banyak berjajar kitab Al-Qurannya, tekunkah kita membaca Al-Quran dan ber’iktikaf di masjid-masjid itu? Dan di balik itu, anak-anak kita serba kita manjakan, apa saja kemauannya kita turuti. Sudahkah kita didik mereka itu secara benar-benar tentang Al-Quran?
Mungkin, seribu pertanyaan akan ditujukan pada kita, dalam saringan: Apakah kita termasuk golongan orang-orang yang membelakangi Al-Quran tersebut atau tidak. Termasuk penyokong, pendukung bahkan pelopor yang membelakangi Al-Quran atau tidak. Dan seberapa usaha kita untuk mengikis sikap membelakangi Al-Quran itu. Semuanya akan dinilai. Dan Al-Quran pun menjadi saksi di akherat nanti. Itulah yang perlu kita sadari sejak kini.
Mudah-mudahan kita, keluarga kita, dan ummat Islam pada umumnya terhindar dari golongan orang-orang dzalim yang berpaling dari Al-Quran itu. Aamiin.
ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻲْ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ، ﻭَﻧَﻔَﻌَﻨِﻲْ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻓِﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍْﻵﻳَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴْﻢِ . ﺃَﻗُﻮْﻝُ ﻗَﻮْﻟِﻲْ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢَ ﻟِﻲْ ﻭَﻟَﻜُﻤْﻮَﻟِﺴَﺎﺋِﺮِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭْﻩُ ﺇِﻧّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮْﺭُ ﺍﻟﺮّﺣِﻴْﻢِ .
Khutbah Kedua
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ . ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺒِﻴِّﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ . ﻗَﺎﻝَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ . ﻗَﺎﻝَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : } ﻭَﻣَﻦ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞ ﻟَّﻪُ ﻣَﺨْﺮَﺟًﺎ { ﻭَﻗَﺎﻝَ } : ﻭَﻣَﻦ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳُﻜَﻔِّﺮْ ﻋَﻨْﻪُ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻳُﻌْﻈِﻢْ ﻟَﻪُ ﺃَﺟْﺮًﺍ {
ﺛُﻢَّ ﺍﻋْﻠَﻤُﻮْﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺃَﻣَﺮَﻛُﻢْ ﺑِﺎﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻼَﻡِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ } : ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ .{
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَﺠِﻴْﺪٌ . ﻭَﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَﺠِﻴْﺪٌ . ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍْﻷَﺣْﻴَﺎﺀِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍْﻷَﻣْﻮَﺍﺕِ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺳَﻤِﻴْﻊٌ ﻗَﺮِﻳْﺐٌ . ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺣَﻘًّﺎ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﺗِّﺒَﺎﻋَﻪُ، ﻭَﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻞَ ﺑﺎَﻃِﻼً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﺟْﺘِﻨَﺎﺑَﻪُ . ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻲ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ . ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻨَﺎ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻨَﺎ ﻗُﺮَّﺓَ ﺃَﻋْﻴُﻦٍ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﺇِﻣَﺎﻣًﺎ . ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻚَ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌِﺰَّﺓِ ﻋَﻤَّﺎ ﻳَﺼِﻔُﻮْﻥَ، ﻭَﺳَﻼَﻡٌ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ .
ﻭَﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ . ﻭَﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ .

sumber: eramuslim

KHUTBAH: NIKMAT HIDUP AKAN DITINGGALKAN

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ .

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ خَيْرَ الكَلَامِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ .

Kaum muslimin rahimakumullah,

Pernahkah kita berfikir, berapa orang yang meninggal dunia di kota kita selama satu bulan? Atau selama satu tahun? Atau bahkan setiap hari di seluruh penjuru bumi? Ketetapan Allah terus berjalan. Ada yang lahir ke dunia dan sebagian lagi meninggalkannya. Suatu saat nanti, pasti kita akan mendapatkan giliran. Ini sebuah realita kehidupan yang tidak bisa dipungkiri. Namun sangat disayangkan, banyak orang lupa atau melupakan kematian.

Padahal dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membicarakan tentang kematian kepada para sahabat, sementara kondisi hati mereka hidup. Ini sangat berbeda dengan realita sangat ini. Betapa banyak acara yang dibuat, upaya yang dirancang untuk mengalihkan perhatian dari kematian. Padahal kita sangat membutuhkannya untuk menyadarkan kita dari kelalaian dan melunakkan hati yang sudah mengeras! Kalau kita mau menjawab dengan jujur, siapakah yang lebih butuh terhadap pembicaraan tentang kematian, kita ataukah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabnya, tentu kita.

Oleh karena itu, pembicaraan tentang kematian khotib angkat. Pembicaraan tentang sebuah peristiwa yang amat mengerikan. Peristiwa yang memutuskan seluruh kesenangan dan mengubur seluruh angan-angan. Kematian berarti berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Kematian memutus kesempatan beramal, dan mengantarkan ke gerbang hisab.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah menasehati kita dengan nasehat yang menyentuh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena kematian itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, maka akan bisa meringankan kesusahannya. Dan jika diingat oleh orang yang sedang senang, maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu.” (HR. Thabrani dan al-Hakim).

Ibadallah,

Mengingat kematian itu dapat menghidupkan hati. Orang yang benar-benar malu terhadap Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melalaikan kematian serta tidak akan meremehkan persiapan menghadapi kematian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kamu benar-benar malu kepada Allah!”. Kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, al-hamdulillah kami malu (kepada Allah)”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud) benar-benar malu kepada Allah adalah engkau menjaga kepala dan isinya, menjaga perut dan apa yang berhubungan dengannya; dan hendaklah engkau mengingat kematian dan kebinasaan. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa telah melakukan itu, berarti dia telah benar-benar malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Bila ada kesempatan, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan para sahabatnya tentang kematian dan berbagai rentetan persistiwa yang akan mengiringinya.

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا

Dari al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada (penguburan-red) suatu jenazah, lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk pada tepi kubur, kemudian beliau menangis sehingga tanah terbasahi, lalu beliau bersabda: “Wahai saudara-saudaraku! Bersiap-siaplah untuk yang seperti ini.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain, al-Bara’ bin ‘Azibradhiyallahu ‘anhu mengatakan.

بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ بَصَرَ بِجَمَاعَةٍ فَقَالَ : عَلَامَ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ هَؤُلَاءِ؟ قِيْلَ : عَلَى قَبْرٍ يَحْفِرُوْنَهُ ، قَالَ : فَفَزِعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَرَ بَيْنَ يَدَيْ أَصْحَابِهِ مُسْرِعًا حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْقَبْرِ فَجَثَا عَلَيْهِ ، قَالَ : فَاسْتَقْبَلْتُهُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ لِأَنْظُرَ مَا يَصْنَعُ ، فَبَكَى حَتىَّ بَلَّ الثَّرَى مِنْ دُمُوْعِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا قَالَ: أَيْ إِخْوَانِي ! لِمِثْلِ الْيَوْمِ فَأَعِدُّوْا

“Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , tiba-tiba Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sekelompok orang, maka beliau bertanya, ‘Untuk apa mereka berkumpul?’ Dikatakan kepada beliau, ‘Mereka berkumpul pada kuburan yang sedang mereka gali’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terperanjat, lalu bergegas mendahului para sahabat sehingga sampai di kuburan, lalu beliau berlutut ke arah kuburan. Bara’ berkata, ‘Maka aku menghadap di depan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melihat apa yang akan beliau lakukan’. Kemudian beliau menangis sehingga tanah menjadi basah karena air mata beliau. Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada kami dan bersabda, “Wahai saudara-saudaraku! Bersiap-siaplah untuk yang sepertil hari ini!” (Silsilatush Shahihah, no. 1751).

Demikian juga Salafus Shalih, mereka mengingat kematian dan mengingatkan orang lain dengannya. Diriwayatkan bahwa Uwais al-Qarni rahimahullah berkata kepada penduduk Kufah, “Wahai penduduk Kufah, sesungguhnya ketika kamu tidur, kamu berbantalkan kematian. Oleh karena itu, jika kamu telah bangun, jadikanlah kematian itu selalu di hadapanmu.”

Ibadallah,

Mengingat kematian itu memiliki pengaruh besar dalam menyadarkan jiwa dari kelalaian. Kematian merupakan pelajaran terbesar. Seorang ahli zuhud ditanya, “Apakah pelajaran yang paling berpengaruh?” Dia menjawab, “Melihat tempat orang-orang yang mati”. Ahli zuhud yang lain mengatakan, “Orang yang tidak berhenti dari kemaksiatan dengan (nasehat) Alquran dan kematian, seandainya gunung-gunung bertabrakkan di hadapannya, dia juga tidak akan berhenti!”

Sungguh, ziarah kubur, menyaksikan jenazah, melihat orang sekarat, merenungkan sakaratul maut, merenungkan wajah mayit setelah matinya, akan mengekang jiwa dari berbagai kesenangannya serta akan mengusir kegembiraan hati.

Orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian, dia akan beramal dengan sungguh-sungguh dan memperpendek angan-angan.

Al-Lubaidi berkata, “Aku melihat Abu Ishaqrahimahullah di waktu hidupnya, selalu mengeluarkan secarik kertas dan membacanya. Ketika dia telah wafat, aku melihat kertas tersebut, ternyata tertulis padanya ‘Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat!! Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat!!!’.”

Saudara-saudaraku, sesungguhnya orang yang hidup dengan tetap mewaspadai akhir kehidupan, dia akan menjalani kehidupan dengan terus mempersiapkan diri. Sehingga ketika kematian menjelang, dia tidak menyesal atau kalau pun menyesal tapi tidak terlalu.

Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersiaplah! Jika kematian mendatangimu, engkau tidak berteriak sekuat tenaga memohon kehidupan. Namun permohonanmu tidak akan dikabulkan”.

Dengan nasehat ini aku ingin membangunkan hati dari tidurnya, menghentikan jiwa dari bergelimang dalam kesesatan dan syahwatnya.

Dengan nasehat ini aku ingin orang yang shalih bertambah keshalihannya dan orang yang lalai segera bangun sebelum menyesal atau sebelum kematiannya.

Kalian telah melihat kehidupan ini berlalu dengan cepat, namun kebanyakan orang tidak menyadarinya. Ada yang lahir sementara yang lain meninggal. Rahim mengeluarkan bayinya, sementara bumi menelan mayit.

Saudara-saudaraku, kehidupan di dunia ini terbatas waktunya. Dia pasti akan berakhir. Orang-orang shalih akan mati, begitu juga orang-orang jahat. Orang-orang bertaqwa akan meninggal, begitu juga yang bergelimang dosa.

Para pahlawan dan mujahid, para penakut dan orang yang lari meninggalkan medan jihad, semua akan mati. Orang-orang mulia yang hidup untuk akhirat dan orang-orang tamak yang hidupnya hanya untuk kesenangan dunia, semuanta tak akan luput dari kematian.

Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi atau hidup hanya untuk syahwat kemaluan dan perut, semuanya pasti dicabut nyawanya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. ar-Rahman/55: 26).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran/3:185).

Semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian. Ia merupakan hakekat, namun kita selalu berusaha lari darinya. Kematian merupakan hakekat, yang bisa menjungkalkan.

Keangkuhan orang-orang yang bersombongPenentangan orang-orang yang menyimpangKezhaliman para thagut yang mengangkat dirinya sebagai tuhan yang harus ditaati.

Kematian merupakan hakekat yang akan dialami oleh semua yang bernyawa, bahkan para Nabi dan Rasul. Allah berfirman.

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. al-Anbiya’/21:34).

Kematian merupakan realita yang terdengar sepanjang zaman dan di setiap tempat. Dia terdengar di telinga, masuk ke pemikiran semua orang yang berakal dan mengetuk hati semua orang yang hidup. Dia membisikan bahwa semua orang akan mati, kecuali Dzat yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan.

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashshash/28:88).

أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ ثَنَاءَ الذَّاكِرِيْنَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،

Ibadallah,

Kematian merupakan realita yang mungkin dihindari. Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. al-Jum’ah/62: 8).

Ya, kematian itu pasti akan menemui kamu…di mana saja kamu berada, kamu akan mati,

Wahai orang-orang kuat …

Wahai orang-orang kuat, nan muda usia …

Wahai orang-orang cerdas dan jenius …

Wahai pemimpin, pembesar …

Wahai orang fakir dan rakyat jelata …

Semua orang yang menangis (karena kematian orang yang dicintai), dia juga akan membuat orang lain menangis (ketika dia mati) …

Semua pembawa berita kematian, dia juga akan diberitakan kematiannya…

Semua harta simpanan akan binasa …

Semua yang disebut-sebut akan dilupakan …

Tidak ada yang kekal selain Allah.

Jika ada orang yang merasa tinggi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih tinggi.

Ketahuilah, semoga Allah menjagamu, orang yang hidup pasti akan mati … dan orang yang mati akan hilang (dari kehidupan) … dan semua yang akan datang pasti akan tiba waktunya …

مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.” (QS. Al-Ankabut/29: 5).

Wahai saudaraku, kehidupanmu yang hakiki akan mulai setelah kematianmu … Persiapkanlah segala sesuatu untuk bekal menjalani kehidupanmu yang sebenarnya. Amal kebaikan, itulah bekal menghadap Allah‘Azza wa Jalla.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَعَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرٍ الصِدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمُيْنَ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالعَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِبُ إِلَى حُبِّكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .

عِبَادَ اللهِ اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، { وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ } .

KAJIAN KITAB IRSYADUL IBAD

irsyadul ibad 01-2.mp3 irsyadul ibad 01-3.mp3 irsyadul ibad 02-2.mp3 irsyadul ibad 03-1.mp3 IRSYADUL IBAD 03-2.mp3 IRSYADUL IBAD 03-3.mp3 IRSYADUL IBAD 04-1.mp3 IRSYADUL IBAD 04-2.mp3 IRSYADUL IBAD 04-3.mp3 IRSYADUL IBAD 05-1.mp3 IRSYADUL IBAD 05-2.mp3 IRSYADUL IBAD 05-3.mp3 IRSYADUL IBAD 06-1.mp3 IRSYADUL IBAD 06-2.mp3 IRSYADUL IBAD 06-3.mp3 IRSYADUL IBAD 07-1.mp3 IRSYADUL IBAD 07-2.mp3 IRSYADUL IBAD 07-3.mp3 IRSYADUL IBAD 08-1.mp3 IRSYADUL IBAD 08-2.mp3 IRSYADUL IBAD 08-3.mp3 IRSYADUL IBAD 09-1.mp3 IRSYADUL IBAD 09-2.mp3 IRSYADUL IBAD 09-3.mp3 IRSYADUL IBAD 10-1.mp3 IRSYADUL IBAD 10-2.mp3 IRSYADUL IBAD 10-3.mp3 IRSYADUL IBAD 11-1.mp3 IRSYADUL IBAD 11-2.mp3 IRSYADUL IBAD 11-3.mp3 IRSYADUL IBAD 12-1.mp3 IRSYADUL IBAD 12-2.mp3 IRSYADUL IBAD 12-3.mp3 IRSYADUL IBAD 13-1.mp3 IRSYADUL IBAD 13-2.mp3 IRSYADUL IBAD 13-3.mp3 IRSYADUL IBAD 14-1.mp3 IRSYADUL IBAD 14-2.mp3 IRSYADUL IBAD 14-3.mp3 IRSYADUL IBAD 15-1.mp3 IRSYADUL IBAD 15-2.mp3 IRSYADUL IBAD 15-3.mp3 IRSYADUL IBAD 16-1.mp3 IRSYADUL IBAD 16-2.mp3 IRSYADUL IBAD 16-3.mp3 IRSYADUL IBAD 17-1.mp3 IRSYADUL IBAD 17-2.mp3 IRSYADUL IBAD 18-1.mp3 IRSYADUL IBAD 18-2.mp3 IRSYADUL IBAD 18-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 19-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 19-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 19-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 20-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 20-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 20-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 21-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 21-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 21-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 22-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 22-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 22-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 23-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 23-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 24-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 24-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 25-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 25-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 25-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 26-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 26-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 26-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 27-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 27-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 27-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 28-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 28-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 28-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 29-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 29-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 29-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 30-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 30-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 30-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 31-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 31-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 31-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 32-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 32-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 32-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 33-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 33-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 33-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 34-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 34-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 34-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 35-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 35-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 35-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 36-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 36-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 37-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 37-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 37-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 38-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 38-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 38-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 39-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 39-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 39-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 40-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 40-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 40-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 41-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 41-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 42-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 42-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 42-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 43-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 43-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 43-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 44-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 44-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 44-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 45-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 45-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 45-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 46-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 46-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 46-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 47-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 47-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 48-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 48-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 48-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 49-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 49-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 49-3.mp3 IRSYADUL-IBAD 50-1.mp3 IRSYADUL-IBAD 50-2.mp3 IRSYADUL-IBAD 50-3.mp3